let's join the blog review of psychology

in this blog will address most of the scientific from the standpoint of psychology, may be useful to us all

Sunday, January 29, 2012

Faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan


Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan seseorang meliputi beberapa aspek antara lain, terdapat komponen genetik terhadap kecemasan, scan otak dapat melihat perbedaan terutama pada pasien kecemasan yang respons dengan signal berbahaya, sistem pemrosesan informasi dalam seseorang berjalan dengan singkat (hal ini dapat direspons dengan suatu ancaman sebelum yang bersangkutan menyadari ancaman tersebut), akar dari gangguan kecemasan mungkin tidak akan menjadi pemisahan mekanisme yang menyertainya namun terjadi pemisahan mekanisme yang mengendalikan respons kecemasan dan yang menyebabkan situasi diluar kontrol (Sani, 2012).

Proses terjadinya kecemasan Perasaan tidak nyaman atau terancam pada ansietas diawali dengan adanya faktor predisposisi dan faktor presipitasi
a. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat digunakan individu untuk mengatasi stress (Stuart & Laraia, 2005;Agustarika,2009). Berbagai teori dikembangkan mengenai factor predisposisi terjadinya ansietas :
1).  Biologi (Fisik)
Penelitian terkini berfokus pada penyebab biologis terjadinya ansietas yang berlawanan dengan penyebab psikologis. (Sullivan & Coplan, 2000; Agustarika, 2009). Beberapa individu yang mengalami episode sikap bermusuhan, iritabilitas, perilaku sosial dan perasaan menyangkal terhadap kenyataan hidup dapat menyebabkan ansietas tingkat berat bahkan ke arah panik. Salah satu faktor penyebab secara fisik yaitu adanya  gangguan atau ketidak-seimbangan pada fisik seseorang.


a). Gangguan fisik
Gangguan fisik yang dapat menyebabkan ansietas adalah antara lain gangguan otak dan saraf (neurologis) seperti cedera kepala, infeksi otak, dan gangguan telinga dalam, gangguan jantung, seperti kelumpuhan jantung dan irama jantung yang abnormal (aritma),  gangguan hormonal (Endrokrin) seperti kelenjar andrenal atau thyroid terlalu aktif, , gangguan paru-paru (pernafasan)  berupa asma, paru-paru obstruktif kronis atau COPD (Medicastore, 2011).
b). Mekanisme terjadinya kecemasan akibat gangguan fisik
Pengaturan ansietas berhubungan dengan aktivitas dari neurotransmmiter Gamma Aminobutyric Acid (GABA), yang mengontrol aktifitas neuron di bagian otak yang berfungsi untuk pengeluaran ansietas. Mekansime kerja terjadinya ansietas diawali dengan penghambatan neurotransmmiter di otak oleh GABA. Ketika bersilangan di sinaps dan mencapai atau mengikat ke reseptor GABA di membran postsinaps, maka saluran reseptor terbuka, diikuti oleh pertukaran ion-ion. Akibatnya terjadi penghambatan atau reduksi sel yang dirangsang dan kemudian sel beraktifitas dengan lamban (Stuart & Laraia,2005; Agustarika,2009). Mekanisme biologis ini menunjukkan bahwa ansietas terjadi karena adanya masalah terhadap efisiensi proses neurotransmmiter.  Neurotransmiter sendiri adalah utusan kimia khusus yang membantu informasi bergerak dari sel saraf ke sel saraf. Jika neurotransmitter keluar dari keseimbangan, pesan tidak bisa melalui otak dengan benar.  Hal ini dapat mengubah cara otak bereaksi dalam situasi tertentu, yang menyebabkan kecemasan. (Medicinet, 2011)
2). Psikologis
Pendapat yang dikemukan oleh Taylor (ed Leonard,2010) Kecemasan merupakan pengalaman subyektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai bentuk reaksi umum dan ketidak-mampuan menghadapi masalah atau munculnya rasa tidak aman pada individu. Izzudin (2006) Kecemasan muncul dikarenakan adanya ketakutan atas sesuatu yang mengancam pada seseorang, dan tidak ada kemampuan untuk mengetahui penyebab dari kecemasan tersebut. Freud (dalam Arndt, 1974; Trismiati, 2004) mengemukakan bahwa lemahnya ego akan menyebabkan ancaman yang memicu munculnya kecemasan. Freud berpendapat bahwa sumber ancaman terhadap ego tersebut berasal dari dorongan yang bersifat insting dari id dan tuntutan-tuntutan dari superego. Freud juga mengatakan jika pikiran menguasai tubuh maka ini berarti bahwa ego yang menguasai pikiran dan pikiran berkuasa secara mutlak (Mc.Quade and Aikman,1987).
Freud (Hall dan Lindzay, 1995 ; Trismiati, 2004) menyatakan bahwa ego disebut sebagai eksekutif kepribadian, karena ego mengontrol pintu-pintu ke arah tindakan, memilih segi-segi lingkungan kemana ia akan memberikan respon, dan memutuskan insting-insting manakah yang akan dipuaskan dan bagaimana caranya. Dalam melaksanakan fungsi-fungsi eksekutif ini, ego harus berusaha mengintegrasikan tuntutan id, superego, dan dunia luar yang sering bertentangan. Hal ini sering menimbulkan tegangan berat pada ego dan menyebabkan timbulnya kecemasan. Freud membagi teori kecemasan menjadi 3 yaitu
a)      ID/Impulse anxiety : perasaan tidak nyaman pada anak
b)      Saparation anxiety : pada anak yang merasa takut akan kehilangan kasih saying orangtuanya
c)      Castration anxiety : merupakan fantasi kastrasi pada masa kanak-kanak yang berhubungan dengan pembentukan impuls seksual
d)     Super Ego anxiety : pada fase ahkir pembentukan super ego yaitu pre pubertas (Sani,2012).
3).  Sosial Budaya
Cara hidup orang di masyarakat juga sangat mempengaruhi pada timbulnya ansietas (Tarwoto & Wartonah, 2003; Agustarika, 2009). Individu yang mempunyai cara hidup sangat teratur dan mempunyai. falsafah hidup yang jelas maka pada umumnya lebih sukar mengalami ansietas. Budaya seseorang juga dapat menjadi pemicu terjadinya ansietas. Hasil survey yang dilakukan oleh Mudjadid,dkk tahun 2006 di lima wilayah pada masyarakat DKI Jakarta didapatkan data bahwa tingginya angka ansietas disebabkan oleh perubahan gaya hidup serta kultur dan budaya yang mengikuti perkembangan kota (dalam Agustarika, 2009). Namun demikian, factor predisposisi di atas tidaklah cukup kuat menyebabkan sesorang mengalami ansietas apabila tidak disertai factor presipitasi (pencetus).


b.  Faktor presipitasi
Stresor presipitasi adalah stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman atau tuntutan yang membutuhkan energi ekstra untuk koping. Faktor presipitasi dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yakni :
1).  Biologi (fisik)
Salah satu penyebab biologis yang dapat menimbulkan ansietas yaitu gangguan fisik (Fracchione, 2004; Agustarika, 2009). Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala fisik, dapat mempengaruhi system syaraf , misalnya tidak dapat tidur, jantung berdebar-debar, gemetar, perut mual, dan sebagainya (Bucklew, 1980).
Gangguan fisik dapat mengancam integritas diri seseorang. Ancaman tersebut berupa ancaman eksternal dan internal. Ancaman eksternal yaitu masuknya kuman, virus, polusi lingkungan, rumah yang tidak memadai, makanan, pakaian, atau trauma injuri. Sedangkan ancaman internal yaitu kegagalan mekanisme fisiologis tubuh seperti jantung, sistem kekebalan, pengaturan suhu, kehamilan (Stuart & Laraia, 2005; Agistarika, 2009), dan kondisi patologis yang berkaitan dengan mentruasi (chandranita, 2009)


2).  Psikologis
Penanganan terhadap integritas fisik dapat mengakibatkan ketidak-mampuan psikologis atau penurunan terhadap aktivitas sehari-hari seseorang (Stuart & Laraia, 2005; Agustarika, 2009). Demikian pula apabila penanganan tersebut menyangkut identitas diri, dan harga diri seseorang, dapat mengakibatkan anacaman terhadap self system.
Ancaman tersebut berupa ancaman eksternal, yaitu kehilangan orang yang berarti, seperti : meninggal, perceraian, dilemma etik, pindah kerja, perubahan dalam status kerja; dapat pula berupa ancaman internal seperti: gangguan hubungan interpersonal di rumah, disekolah atau ketika dalam lingkungan bermainnya. Kecemasan seringkali berkembang selama jangka waktu panjang dan sebagian besar tergantung pada seluruh pengalaman hidup seseorang.