let's join the blog review of psychology

in this blog will address most of the scientific from the standpoint of psychology, may be useful to us all

Sunday, January 15, 2012

MENSTRUASI


Haid atau menstruasi adalah salah satu proses alami seorang perempuan yaitu proses deskuamasi atau meluruhnya dinding rahim bagian dalam (endometrium) yang keluar melalui vagina (Prawirohardjo,2007; Suwarni 2009). Siklus menstruasi berkisar antara 21 - 40 hari, hanya 10 – 15% wanita yang memiliki siklus 28 hari dan lebih dari 35 hari. Jarak antara siklus yang paling panjang biasanya terjadi sesaat setelah menarche dan sesaat sebelum menopause, lamanya mengeluarkan darah pun berbeda-beda, biasanya antara 3-5 hari,7-8 hari dan ada yang 1-2 hari diikuti darah sedikit-sedikit. 
Menarche sendiri adalah waktu pertama kali menstruasi dan sebagai salah satu aspek penting untuk menjadikan wanita memasuki masa puber (Stainberg, 2002). Permulaan dan kelanjutan dari siklus menstruasi yang normal tergantung pada kesatuan fungsional dan anatomis dari hipotalamus bersama dengan pusat-pusat yang lebih tinggi termasuk peran kelenjar pineal, pituitary anterior, ovarium, dan uterus (Berman, Kiliegman and Arvin, 2000).


Siklus menstruasi dipengaruhi oleh serangkaian hormon yang diproduksi oleh tubuh yaitu Luteinizing Hormon , Follicle Stimulating Hormone dan estrogen. Selain itu siklus juga dipengaruhi oleh kondisi psikis sehingga bisa maju dan mundur. Masa subur ditandai oleh kenaikan Luteinizing Hormone secara signifikan sesaat sebelum terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium). Kenaikan LH akan mendorong sel telur keluar dari ovarium menuju tuba falopii. Didalam tuba falopii ini bisa terjadi pembuahan oleh sperma. Masa-masa inilah yang disebut masa subur, yaitu bila sel telur ada dan siap untuk dibuahi. Sel telur berada dalam tuba falopi selama kurang lebih 3-4 hari namun hanya sampai umur 2 hari masa yang paling baik untuk dibuahi, setelah itu mati. LH surge yaitu kenaikan LH secara tiba-tiba akan mendorong sel telur keluar dari ovarium. Sel telur biasanya dilepaskan dalam waktu 16-32 jam setelah terjadi peningkatan LH.

Beberapa wanita merasakan nyeri tumpul pada bagian perut bawah pada saat hal ini terjadi. Lama keluarnya darah menstruasi juga bervariasi, pada umumnya lamanya 4 sampai 6 hari, tetapi antara 2 sampai 8 hari masih dapat dianggap normal. Pengeluaran darah menstruasi terdiri dari fragmen-fragmen kelupasan endrometrium yang bercampur dengan darah yang banyaknya tidak tentu. Biasanya darahnya cair, tetapi apabila kecepatan aliran darahnya terlalu besar, bekuan dengan berbagai ukuran sangat mungkin ditemukan. Ketidakbekuan darah menstruasi yang biasa ini disebabkan oleh suatu sistem fibrinolitik lokal yang aktif di dalam endometrium. Rata-rata banyaknya darah yang hilang pada wanita normal selama satu periode menstruasi telah ditentukan oleh beberapa kelompok peneliti, yaitu 25-60 ml. Konsentrasi Hb normal 14 gr per dl dan kandungan besi Hb 3,4 mg per g, volume darah ini mengandung 12-29 mg besi dan menggambarkan kehilangan darah yang sama dengan 0,4 sampai 1,0 mg besi untuk setiap hari siklus tersebut atau 150 sampai 400 mg per tahun (Heffner; 2008; Nur,2010).

Setiap satu siklus menstruasi terdapat 4 fase perubahan yang terjadi dalam uterus. Fase-fase ini merupakan hasil kerjasama yang sangat terkoordinasi antara hipofisis anterior, ovarium, dan uterus. Fase-fase tersebut adalah :
  1. Fase menstruasi atau deskuamasi Fase ini, endometrium terlepas dari dinding uterus dengan disertai pendarahan dan lapisan yang masih utuh hanya stratum basale. Fase ini berlangsung selama 3-4 hari.
  2. Fase pasca menstruasi atau fase regenerasi. Fase ini, terjadi penyembuhan luka akibat lepasnya endometrium. Kondisi ini mulai sejak fase menstruasi terjadi dan berlangsung selama ± 4 hari. (Wiknjosastro; 2005, Nur;2010). Terjadi pada hari pertama sampai hari ke lima pada siklus menstruasi (Hendrik, 2006)
  3. Fase intermenstum atau fase proliferasi . Setelah luka sembuh, akan terjadi penebalan pada endometrium ± 3,5 mm. Fase ini berlangsung dari hari ke-5 sampai hari ke-14 dari siklus menstruasi. Fase proliferasi dibagi menjadi 3 tahap, yaitu : Fase proliferasi dini, terjadi pada hari ke-4 sampai hari ke-7. Fase ini dapat dikenali dari epitel permukaan yang tipis dan adanya regenerasi epitel. Fase proliferasi madya, terjadi pada hari ke-8 sampai hari ke-10. Fase ini merupakan bentuk transisi dan dapat dikenali dari epitel permukaan yang berbentuk torak yang tinggi. Fase proliferasi akhir, berlangsung antara hari ke-11 sampai hari ke-14. Fase ini dapat dikenali dari permukaan yang tidak rata dan dijumpai banyaknya mitosis (Wiknjosastro; 2005, Nur;2010). Pada masa ini adalah masa paling subur bagi seorang wanita (Hendrik,2006)
  4. Fase pramenstruasi atau fase sekresi. Fase ini berlangsung dari hari ke-14 sampai ke-28. Fase ini endometrium kira-kira tetap tebalnya, tetapi bentuk kelenjar berubah menjadi panjang berkelok-kelok dan mengeluarkan getah yang makin lama makin nyata. Bagian dalam sel endometrium terdapat glikogen dan kapur yang diperlukan sebagai bahan makanan untuk telur yang dibuahi. Fase sekresi dibagi dalam 2 tahap, yaitu: Fase sekresi dini, pada fase ini endometrium lebih tipis dari fase sebelumnya karena kehilangan cairan. Fase sekresi lanjut, pada fase ini kelenjar dalam endometrium berkembang dan menjadi lebih berkelok-kelok dan sekresi mulai mengeluarkan getah yang mengandung glikogen dan lemak. Akhir masa ini, stroma endometrium berubah kearah sel-sel; desidua, terutama yang ada di seputar pembuluh-pembuluh arterial. Keadaan ini memudahkan terjadinya nidasi (Wiknjosastro; 2005, Nur;2010).

Menurut Wiknjosastro (2002), gangguan menstruasi dan siklusnya khususnya dalam masa reproduksi dapat digolongkan dalam:

1) Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada menstruasi

  • Hipermenorea (menoragia) : perdarahan menstruasi yang lebih banyak atau lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari). Pada bentuk gangguan seperti ini siklus menstruasi tetap teratur akan tetap jumlah darah yang dikeluarkan cukup banyak. Penyebab terjadinya kemungkinan terdapat mioma uteri (pembesaran rahim), polip endometrium, atau hiper plasia endometrium (perubahan dinding rahim). Diagnosis kelainan dapat ditetapkan pemeriksaan dalam, ultrasonografi (USG) dan pemeriksaan terhadap kerokan (Chandranita, 2009)
  • Hipomenorea : perdarahan menstruasi yang lebih pendek atau lebih kurang dari biasanya. Pada kelainan ini siklus menstruasi tetap teratur sesuai dengan jadwal menstruasi akan tetapi jumlah darah yang dikeluarkan relative sedikit. Penyebabnya kemungkinan gangguan hormonal, kondisi wanita kekurangan gizi, atau wanita dengan penyakit tertentu (Chandranita, 2009).

2) Kelainan siklus

  • Polimenorea : siklus menstruasi yang lebih pendek dari biasa (kurang dari 21 hari). Polimenorea dapat disebabkan oleh gangguan hormonal yang mengakibatkan gangguan ovulasi, atau menjadi pendeknya masa luteal. Sebab lain adalah kongesti ovarium karena peradangan, endometriosis, dan sebagainya.
  • Oligomenorea : siklus menstruasi lebih panjang (lebih dari 35 hari). Perdarahannya biasanya berkurang. Pada kebanyakan kasus oligomenorea kesehatan wanita tidak terganggu, dan fertilitas cukup baik. Siklus menstruasi biasanya juga ovulator dengan masa proliferasi lebih panjang dari biasa.
  • Amenorea :Keadaan tidak adanya menstruasi untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut. Gangguan berhentinya menstruasi yang diakibatkan karena adanya gangguan pada fungsi indung telur, hormone yang tidak stabil, kesehatan atau masalah tekanan jiwa dan emosi (Kasdu,2005). Amenorea dibagi menjadi dua yaitu amenorea primer dan sekunder. Amenorea sekunder terjadi ketika seorang wanita tidak mengalami menstruasi sejak kecil. 

Penyebabnya kelainan anatomis kelamin (tidak terbentuk Rahim, tidak ada liang vagina, atau gangguan hormonal). Amenorea fisiologis (normal) yaitu sesorang wanita sejak lahir sampai menarche, terjadi pada kehamilan dan menyusui sampai batas tertentu dan setelah mati haid.
Sedangkan Amenorea sekunder yaitu pernah mengalami menstruasi dan selanjutnya berhenti lebih dari tiga bulan. Penyebabnya mungkin gangguan gizi, terdapat tumor alat kelamin, gangguan hormonal atau penyakit menahun (Chandranita, 2009). Gejala klinis amenorea sekunder antara lain nyeri abdomen bagian bawah, menjalar kepinggang dan paha disertai keluhan mual dan muntah, sakit kepala, diare, mudah tersinggung (Manuba, 1998)

Untuk mengatasi Amenorea sebaiknya seseorang melakukan gaya hidup sehat mulai dari makan makanan yang bergizi seimbang, berolahraga, tidak minum-minuman berahkohol, tidak minum obat-obatan steroid atau narkotika, tidak stress dan menjaga berat sehingga dengan pola hidup yang sehat ini membuat hormone tetap normal (Kasdu,2005)

3) Perdarahan di luar haid

Perdarahan yang terjadi dalam masa antara 2 menstruasi (metroragia). Pendarahan ini disebabkan oleh keadaan yang bersifat hormonal dan kelainan anatomis. Pada kelainan hormonal terjadi gangguan poros hipotalamus hipofise, ovarium (indung telur) dan rangsangan estrogen dan progesterone dengan bentuk pendarahan yang terjadi di luar menstruasi, bentuknya bercak dan terus menerus, dan pendarahan menstruasi berkepanjangan (Chandranita, 2009). Keadaan ini dipengaruhi oleh ketidak seimbangan hormone tubuh, yaitu kadar hormone progesterone yang rendah atau hormone estrogen yang tinggi. Penderita hipoteroid (kadar hormone teroid yang rendah) atau hiperteroid (kadar hormone teroid yang tinggi) dan fungsi adrenal yang rendah juga bisa menyebabkan gangguan ini. Beberapa gangguan organ reproduksi juga dapat menyebabkan metroragia seperti infeksi vagina atau Rahim endometriosis, kista ovarium, fibroid, kanker endometrium atau indung telur, hyperplasia endometriosis, penggunaan kontrasepsi spiral yang mengalami infeksi juga dapat menyebabkannya (Kasdu,2005).

Pengobatan terhadap kelainan ini pada remaja (gadis) dengan pengaturan secara hormonal (Chandranita, 2009) dengan menstimulasi kelenjar pituitary di otak dan adrenal untuk menyeimbangkan kadar FSH dan LH (Kasdu,2005) sedangkan untuk wanita menikah atau mempunyai anak dengan memeriksakan alat kelamin dan bila perlu diadakan kuretase dan pemeriksaan patologi untuk memastikannya (Chandranita, 2009).
Sedangkan gangguan lain yang ada hubungan dengan haid

a) Premenstrual tension (ketegangan pramenstruasi) : 

keluhan-keluhan yang biasanya mulai 1 minggu sampai beberapa hari sebelum datangnya menstruasi, dan menghilang sesudah menstruasi datang, walaupun kadang-kadang berlangsung terus sampai menstruasi berhenti. Gejala ini dijumpai pada wanita umur 30 sampai 45 tahun. Penyebab yang jelas belum diketahui akan tetapi kemungkinan diakibatkan ketidakseimbangan antara estrogen dan progesterone. Dikemukan bahwa dominasi estrogen merupakan penyebab dan defisiensi fase luteal dan kekurangan progesterone. Akibat dominasi estrogen terjadi retensi air dan edama pada beberapa tempat. Gejala klinisnya dalam bentuk gangguan emosional yaitu mudah tersinggung, sukar tidur, gelisah, sakit kepala, perut kembung, mual sampai muntah, pada payudara terasa tegang dan sakit, bahkan kasus yang lebih berat sering individu yang mengalaminya menjadi tertekan (Manuba, 1998).

b) Mastalgia : 

rasa nyeri dan pembesaran payudara sebelum menstruasi. Mastalgia disebabkan dominasi hormone estrogen sehingga terjadi retensi air dan garam disertai hipermia didaerah payudara. Segera setelah menstruasi mastalgia menghilang dengan sendirinya (Manuba, 1998)

c) Mittelschmerz (rasa nyeri pada ovulasi) : 

nyeri antara menstruasi, terjadi kira-kira sekitar pertengahan siklus menstruasi, pada saat ovulasi. Kadang-kadang Mittelschmerz diikuti oleh pendarahan yang berasal dari proses ovulasi dengan gejala klinis seperti hamil ektropik yang pecah (Manuba, 1998).

d) Dismenorea

Dismenorea merupakan rasa sakit akibat menstruasi yang sangat menyiksa karena nyerinya luar biasa menyakitkan. Selama dismenorea, terjadi kontraksi otot rahim akibat peningkatan prostaglandin sehingga menyebabkan vasospasme dari arteriol uterin yang menyebabkan terjadinya iskemia dan kram pada abdomen bagian bawah yang akan merangsang rasa nyeri disaat menstruasi (Robert dan David; 2004; Nur,2010). Faktor yang memperburuk dismenorea adalah Rahim yang menghadap kebelakang (retroversi), kurangnya berolahraga dan stress psikis atau stress social, dan kekurangan zat besi (Kasdu,2005).
Dimenorea terdiri dari primer dan sekunder. Lebih dari 50% wanita mengalami dismenorea primer dan 15 % diantaranya mengalami nyeri yang hebat. Biasanya dimenorea primer timbul pada masa remaja yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi pertama dan tidak disebabkan oleh penyakit. Namun dengan bejalannya waktu tepatnya hormone tubuh lebih stabil atau perubahan pada Rahim setelah menikah dan melahirkan gangguan ini akan berkurang (Kasdu,2005).
Sedangkan dismenorea sekunder, gangguan haid disebakan adanya gejala penyakit yang berhubungan dengan kandungan, misalnya endometriosis, infeksi Rahim, kista/polip, tumor sekitar kandungan, kelainan kedudukan Rahim yang dapat menganggu organ dan jaringan disekitarnya. Penyebab dismenorea sekunder lainya adalah kondisi panggul, endometriosis, fibroid, edenomiosis, peradangan tuba falopi, pelengketan abnormal antar organ dalam perut, pemakian kontrasepsi IUD atau tampon. Kondisi demikian hanya dialami sekitar 25% wanita dan kebanyakan mereka berumur 20 tahunan (Kasdu,2005).

Syndroma Pramenstruasi (Premenstual Syndrome)

Kadar sindroma pramenstruasi (PMS) dan waktunya pada setiap wanita tidak selalu sama. Ada wanita yang merasa sangat sakit sampai menderita kram dan tidak dapat beraktifitas. Beberapa ahli mengatakan bahwa gejala tersebut berhubungan kadar hormone estrogen dan progesterone pada siklus haid. Menurut ahli lain memperkirakan gangguan menjelang haid berhubugan dengan masalah psikis, misalnya wanita menganggap masa haid sebagai beban sehingga tanpa sadar ia menolaknya. Gangguan ini bisa juga merupakan tanda dari penyakit yang serius seperti endometriosis, kista atau angioma uteri dan adanya infeksi Rahim (Kasdu,2009). Gejala yang muncul akan terjadi pada separuh ahkir dari siklus menstruasi, yang menghilang saat mulainya menstruasi. Manifestasi klinis dapat berupa penuhnya payudara dan terasa nyeri, bengkak, kelelahan, sakit kepala, peningkatan nafsu makan, iritabilitas dan ketidakstabilan perasaan dan depresi, kesulitan dalam kosentrasi, keluar air mata dan kecenderungan untuk melakukan kejahatan. Hamper sepertiga wanita produktif menghidap PMS (Behrman, Kliegman and Arvin;2000).
Untuk mencegah PMS yaitu menjaga organ genital, baik dalam hubungan sex maupun saat buang air besar dan kecil. Tindakan lainnya untuk mengurangi resiko ini adalah olahraga dan hidup lebih rileks sehingga aliran darah tubuh lancar karena mempengaruhi aliran darah organ reproduksi. Termasuk pola makan yang memenuhi gizi seimbang sehingga semua kebutuhan tubuh akan zat-zat gizi terpenuhi, terutama kebutuhan zat besi yang diperlukan saat wanita haid (Kasdu,2005).

No comments: