let's join the blog review of psychology

in this blog will address most of the scientific from the standpoint of psychology, may be useful to us all

Sunday, January 29, 2012

MACAM-MACAM KECEMASAN


 
Gangguan kecemasan dapat muncul dalam berapa bentuk gangguan kecemasan antara lain, Generalized Anxiety Disoder, Agorafobia, Fobia khusus (Tell,2010), Separation Anxiety (Herbert,2006),  Obsesif-Kompulsif (Eisner dkk,2009). Gangguan kecemasan merupakan gangguan mental yang hampir dialami tiap orang dan semua umur (Herbert, 2006) penjelasan mengenai gangguan tersebut diperjelas Sani (2012) yang mengatakan kecemasan dapat muncul dalam berbagai bentuk  antara lain
a.      Gangguan panik
Serangan tidak dapat diduga muncul dalam bentuk kecemasan akut, yang berlangsung selama 10 menit. Kepanikan merupakan episode kecemasan ekstrem dalam merespon suatu ancaman nyata. Kepanikan memperlihatkan gejala : palpitasi, keluhan sakit di dada, berkeringat, demam, nafas pendek, nausea, sakit kepala atau perasaan aneh dan takut kehilangan pengawasan pada dirinya. Misalnya Phobia (bentuk ketakutan terhadap objek atau situasi tertentu/spesifik, sering dsertai dengan gejala-gejala kecemasan ekstrem).

Istilah “panik” berasal dari kata Pan, dewa Yunani yang setengah Ripnusia setengah hantu dan tinggal dipegunungan dan hutan, tetapi perilakunya sulit diduga. Biasanya serangan panic berhubungan dengan penghindaran. Jika penghindarannya berat, disebut dengan panic dengan penghindaran fobik berlebihan (agorafobia).
b.      Gangguan Fobia
Gambaran utama mengenai gangguan fobia adalah ketakutan yang menetap dan tidak rasional  terhadap suatu objek, aktivitas atau situasi spesifik yang menimbulkan suatu keinginan untuk menghindari objek, aktivitas atau situasi tersebut (stimulus fobik). Pasien fobia sering dijumpai pada kasus-kasus neurosis. Pada pasien fobia sering dijumpai suasana emosi yang komplek disertai dengan rasa cemas. Secara psikologis factor yang memyebabkan rasa cemas tersebut bisa didapat dari lingkungan luar dan pasien tidak mampu untuk menyebutkan sumber ketakutannya, dan merasa kebingungan serta mengalami kesulitan memusatkan perhatian.
Gangguan fobia dibagi dalam tiga tipe antara lain.
1)      Agorafobia (bentuk yang paling berat pervasive/meresap)
Kekhawatiran pada suatu tempat atau situasi tertentu (misalnya tempat ramai, dipasar atau tempat umum) karena merasa sulit untuk berlindung dan merasa dirinya tidak berdaya. Ketakutan ini menyebabkan penderita makin lama semakin mengisolasi dirinya sehingga tidak mau melakukan perjalanan atau selalu membutuhkan pendamping.
Agrofobia dengan serangan panik, dapat diterangkan sebagai berikut.
a)      Individu mempunyai ketakutan yang hebat terhadap situasi berada sendirian atau tempat umum, dimana dia akan sulit melarikan diri atau tempat yang tidak ada pertolongan apabila datang serangan mendadak berupa perasaan tidak berdaya, seperti misalnya berada di antara orang banyak dalam terowongan, atau diatas jembatan.
b)      Aktivitas yang biasa dilakukannya makin sempit dan ahkirnya ketakutan atau tingkah laku menghindar menguasai hidup individu
c)      Tidak disebabkan oleh episode Depresi Berat, Gangguan Obsesif-Kompulsif, Gangguan Kepribadian Paranoid, atau Skizoprenia.
2)      Fobia Sosial
Fobia social adalah perasaan takut terhadap hal-hal yang tidak termasuk dalam kriteria agoraphobia atau fobia social seperti takut akan binatang, kilat, sakit, kecelakaan atau kematian. Ketika situasi ketakutan muncul mereka dapat saja mengalami gejala somatic sebagai akibat dari kecemasan. Beberapa penderita tidak mengeluh akan gejala somatic tetapi mengalami ketakutan.
Situasi umum yang dianggap sebagai fobia social berhadapan dengan hal-hal sebagai berikut.
a)      Perkenalan
b)      Menemui seseorang
c)      Menggunakan telepon
d)     Mendapat kunjungan
e)      Diperhatikan ketika melakukan sesuatu
f)       Digoda
g)      Makan bersama kenalan dirumah
h)      Makan bersama keluarga dirumah
i)        Menulis di depan orang lain
j)        Berbicara didepan umum
Sedangkan kriteria diagnosis fobia social antara lain.
a)      Rasa takut yang jelas dan menetap terhadap satu atau lebih situasi social atau kinerja dimana bertemu dengan orang yang tidak dikenal atau kemungkinan diperiksa oleh orang lain. Individu merasa takut bahwa ia akan bertindak dalam cara (atau menunjukan gejala kecemasan) yang akan memalukan atau merendahkan.
b)      Pemaparan dengan situasi social yang ditakuti hamper selalu mencetuskan kecemasan yang dapat berupa serangan panic yang berkaitan dengan situasi atau dipresiposisi oleh situasi.
c)      Orang menyadari bahwa rasa takut adalah berlebihan atau tidak beralasan
d)     Situasi social atau kinerja yang ditakuti akan dihindari atau jika tidak dapat dihindari dihadapi dengan kecemasan atau dalam situasi penderitaan yang akut
e)      Penghindaran, antisipasi fobik, atau penderitaan dalam situasi social atau kinerja secara bermakna menganggu rutinitas normal orang, fungsi pekerjaan (akademik) atau aktivitas social dan hubungan dengan orang lain, atau terdapat penderitaan yang jelas tentang menderita fobia.
f)       Pada individu dibawah 18 tahun, durasi sekurangnya 6 bulan
g)      Rasa takut atau penghindaran bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau kondisi medis umum, dan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan cemas perpisahan, gangguan dismorfik tubuh, gangguan perkembangan parbasif, atau gannguan kepribadian skizoid).
3)      Fobia Khusus
Fobia khusus lebih umum daripada fobia social, lebih besar dialami oleh wanita daripada laki-laki. Objek yang ditakuti dalam dalam fobia khusus antara lain binatang, petir, penyakit, dan kematian. Sedangkan kriteria diagnostic untuk fobia spesifik ini yaitu
a)      Rasa takut yang jelas dan menetap yang berlebihan atau tidak beralasan, ditunjukan oleh adanya atau antisipasi suatu objek atau situasi tertentu (misalnya, naik pesawat terbang, ketinggian, binatang, mendapat suntikan, melihat darah).
b)      Pemaparan dengan stimulus fobik hamper selalu mencetuskan respons kecemasan segera, yang dapat berupa serangan panic yang berhubungan dengan situasi atau dipredisposisi oleh situasi.
c)      Orang menyadari bahwa rasa takut tersebut berlebihan atau tidak beralasan.
d)     Situasi fobik mungkin dihindari, atau jika tidak dapat dihindari dihadapi dengan kecemasan atau penderitaan yang kuat.
e)      Penghindaran, antisipasi kecemasan, atau penderitaan dalam situasi yang ditakuti secara bermakna menganggu rutinitas norma orang, fungsi pekerjaan (atau akademik), atau aktivitas social atau hubungan dengan orang lain atau terdapat penderitaan yang jelas karena menderita fobia.
f)       Pada individu yang berusia dibawah 18 tahun, durasi sekurang-kurangnya adalah 6 bulan
g)      Kecemasan, serangan panic atau penghindaran fobik berhubungan dengan objek atau situasi spesifik adalah tidak lebih diterangkan oleh gangguan mental lain, seperti, gangguan obsesi-kompulsif (misalnya, takut pada kotoran pada seseorang dengan obsesi tentang kontaminasi), gangguan stress pascatraumatik (misalnya, menghindar dari stimuli yang berhubungan dengan stressor yang berat), gangguan cemas perpisahan (misalnya, meghindar sekolah), fobia social, gangguan panic dengan agoraphobia atau agoraphobia tanpa riwayat panic.
c.      Gangguan Obsesif-Kompulsif
Melakukan pertimbangan, kesan atau rangsangan (impuls) secara berulang-kali dan dilakukan melalui elaborasi dan seringkali membahayakan. Gannguan ini dapat menyebabkan ketidak-berdayaan karena obsebsi yang pada hakikatnya menghabiskan waktu dan menganggu secara bermakna pada rutinitas normal seseorang terutama gangguan ini meliputi fungsi pekerjaan, aktivitas social, atau hubungan dengan teman dan anggota keluarga.
Suatu dikatakan obsesi adalah adalah pikiran, perasaan, ide, sensasi yang menganggu (intrusif). Sedangkan kompulsif adalah perilaku yang disadari, dibakukan, dan rekuren, seperti misalnya meghitung, memeriksa, atau menghindar, yang bersebab adanya obsesi.
Obsesi meninggalkan kecemasan seseorang, sedangkan tindakan kompulsif menurunkan kecemasan, namun menimbulkan kecemasan baru. Seseorang dengan gangguan obsesif-kompulsif umumnya menyadari irasionalitas dari obsesi dan merasakan bahwa obsesi dan kompulsif sebagai ego distronik.

d.       Gangguan stres Pasca-trauma
Gangguan ini terjadi secara berulang, yang disebabkab oleh kecemasan sebagai akibat peristiwa yang mengerikan (katastropik). Gangguan cemas ini terdiri pengalaman tentang trauma melalui mimpi dan pikiran, penghindaran terhadap trauma, dan kesadaran berlebihan yang persisten. Gangguan sangat mungkin terjadi pada mereka yang sendirian, bercerai, janda, mengalami gangguan ekonomis, atau menarik diri secara sosial
Stressor adalah factor penyebab utama dalam perkembangan gangguan stress pasca-traumatik. Tetapi tidak semua orang akan mengalami gangguan stress pasca-traumatik setelah suatu peristiwa traumatic. Walaupun stressor diperlukan, namun stressor tidak cukup untuk menyebabkan gangguan. Klinis stress pasca-traumatik harus mempertimbangkan juga factor biologis individual yang telah ada, factor psikososial sebelumnya, dan peristiwa yang terjadi setelah trauma.


Factor kerentanan yang merupakan predisposisi tampaknya memainkan peranan penting dalam menentukan apakah gangguan akan berkembang menjadi trauma pasca-traumatik, sebagian ditentukan oleh:
1).  Adanya trauma masa kanak-kanak
2). Sifat gangguan kepribadian ambang, paranoid, dependen, atau anti social
3).  System pendukung yang tidak kuat
4). Kerentanan konstitusional genetika pada penyakit psikiatrik
5). Perubahan hidup penuh stress yang baru saja terjadi
6). Persepsi tentang lokus control eksternal, dan
7). Penggunaan Alkohol, Walaupun belum sampai pada taraf ketergantungan.
e.      Gangguan Stres Akut
Pengertian stress ialah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri sebagai akibat adanya penghalang kesukaran, kebimbangan, aral melintang dalam usaha mencapai tujuan sehingga menganggu kesimbangan, bila tidak dapat diatasi dengan baik akan muncul gangguan badan atau jiwa.
Bila stress mengancam perasaan kemampuan dan harga diri seseorang maka reaksinya akan condong berorientasi pada pembelaan Ego (Ego Defence Oriented) dengan tujuan utama melindungi diri terhadap rasa devaluasi diri, meringankan ketegangan serta kecemasan yang menyakitkan.
f.       Gangguan Kecemasan Umum (GAD)
Gangguan kecemasan umum (GAD) ditandai dengan gejala kecemasan atau kekhawatiran yang berlebihan. Serangan ini meliputi sejumlah kejadian atau akivitas (pekerjaan, prestasi sekolah). Individu merasa sulit untuk mengendalikan ketakutannya. Gejala-gejala kecemasan akan dianggap signifikan klinis dimana
1). Tingkat keparahannya abnormal atau berkepanjangan
2). Terjadi dalam keadaan yang penuh tekanan
3). Merusak fungsi fisik, social atau pekerjaan
g.       Gangguan Kecemasan Akibat Kondisi Kesehatan (medis) Umum
Terjadinya gejala kecemasan yang berhubungan dengan kondisi umum sering ditemukan, walaupun insidensi gannguan variasi untuk masing-masing kondisi umum spesifik.
Berbagai macam kondisi medis dapat menyebabkan gejala yang mirip pada gangguan kecemasan antara lain,
1)      Gangguan Neurologis (Neoplasma serebal, Trauma serebal dan sindroma pasca tegar, penyakit serebrovaskular, Pendarahan subarachasid, Migrain, Ensefalitis, Sifilis serebal, Sklerosis multiple, Penyakit Wilson, Penyakit Huntington, Epilepsi).
2)      Kondisi Sistemik (Hipoksia, Penyakit kardiovaskuler, Aritmia jantung, Insifiensi pulmonal, Anemia)
3)      Gangguan Endrokrin (Disfungsi hipofisis, Disfungsi tiroid, Disfungsi paratroid, Disfungsi adrenal, Feokromositoma, Gangguan virilisasi)
4)      Gangguan Peradangan (Lupus eritematosa, Artritis rematoid, Poliarteritis nodosa, Arteritis temporal)
5)      Keadaan Defisiensi (Defisiensi vitamin B12, Pelagra)
6)      Kondisi Lain (Hipoglikemia, Sindroma karsinoid, Keganasan sistemik, Sindroma pra-menstruasi, Penyakit febril dan infeksi kronis, Sindroma pasca ensefalitis, Urema).
7)      Kondisi Toksi (Putus obat dan Alkohol, Ampetamin, Obat simpatometi, Obat vasopressor, Kafein dan putus kafein, Penicilin, Sulfonamide, Kanabis, Air raksa, Arsenik, Fosfor, Organofosfat, Karbon disulfide, Bezene, Introleransi aspirin)
8)      Dan lain-lain


h.      Gangguan Kecemasan Akibat Obat
Obatan-obatan dapat menyebakan kecemasan adalah alcohol, stimulant (perangsang), kafein, kokain, dan obatan-obatan yang dibatasi penggunaannya dan pengawasan dokter ketika tiba-tiba dihentikan (medicastore, diakses 3 januari 2012).
i.      Gangguan Kecemasan yang tidak ditentukan

No comments: